Rabu, 08 Januari 2014

Belajar Dari Tukang Ronde

Oleh: Saif Fatan



Nabi Muhammad Saw bersabda: “Apabila sepertiga malam tiba, maka Allah turun kelangit pertama (sesuai dangan keagungan-Nya). Lalu memanggil (hamba-Nya): Adakah orang yang mau bertaubat? Aku akan menerima taubatnya. Adakah orang yang minta ampun? Aku akan mengampuninya. Adakah orang yang memerlukan sesuatu? Aku akan penuhi keperluannya. Hal seperti itu dilakukan oleh Allah setiap malam”
(HR. Bukhari)

Secangkir ronde kembali menemaniku malam ini. Memberiku banyak inspirasi mengenai makna perjuangan dan kesungguhan. Entah, tidak pertama kali ini saja aku menikmati kehangatan ronde yang beraromakan jahe dengan racikan legitnya gula merah ini. Seringkali menjadi sebuah nuansa baru bagiku, khususnya di malam hari. Waktu tempatku mencurahkan perenungan panjang dan belajar bermuhasabah diri di tengah kekalutan jiwa karena disibukkan dalam aktivitas dan rutinitas duniawi.

Aku terkesima dengan diorama kisah perjuangan menimang hidup seorang pedagang ronde yang rela menghabiskan setengah malamnya untuk berjalan menjajaki minuman hangat ini. hal ini telah menyadarkan jiwaku, menghempaskan kemalasanku, dan membangunkan kesadaranku untuk terus beranjak memperbaiki diri. Jika bukan karena keluarga, mungkin sang penjual tidak akan mempunyai tekad sekuat ini untuk membiarkan dirinya tetap terjaga di malam hari. Jika bukan karena keinginannya untuk memberikan kebahagiaan yang tulus dan ingin melihat senyum merekah dari anak-anaknya, mungkin ia bisa saja bersantai dengan kelalaiannya menikmati waktu yang tanpa makna.

Itu semua adalah pilihan, namun di sinilah kesungguhan memberikan yang terbaik, yang akan mengiring kita kepada sebuah pilihan yang berujung pada sebuah kebahagiaan batin. Kadar kebahagiaan kita ternyata seiring dengan sejauh mana kesungguhan itu menjadi hela nafas ikhtiar kita.

Sang pedagang ronde mempunyai sebuah keyakinan bahwa kebahagiaan itu akan didapat ketika ia membawa secerca kebahagiaan atas kerja keras menjajakan ronde selama setengah bahkan semalam suntuk, demi keluarga. Karena ia sadar bahwa keluarga menjadi barometer kesuksesannya di dunia. Bukan sekedar memberikan nafkah dan sebatas mencarikan harta kebutuhan duniawi. Keluarga yang bijak lebih menilai kerja keras dibandingkan kedua hal tersebut.

Beberapa kali aku bertemu dengan macam-macam karakter dari tukang ronde yang menjadi langgananku hampir setiap malam. Berbagai raut wajah nampak di sela-sela perjuangan mereka di waktu banyak orang malah menghabiskan waktunya untuk beristirahat dan mungkin bercengkrama dengan keluarga. Hanya ada satu kesamaan rasa yang aku tangkap dari setiap garis wajah yang selalu menyapa di tengah dinginnya malam. Yaitu garis perjuangan membahagiakan orang lain.[]


1 komentar:

Semesta Sastra mengatakan...

Ijin save gambarnya untuk ilustrasi posting ya, Gan. Terimakasih banget.

Posting Komentar